Minggu, 30 Juli 2017

Sapardi dan Kisah Hujan Bulan Juni

maaf narsis dikit :)
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi diselembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.


Dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film. kini puisi "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi beralih wahana menjadi novel.


Siapa tak kenal sosok Sapardi Djoko Damono, bagi penggemar puisi ataupun sastra, pasti sangat mengenal setiap sajak puisinya yang terkadang membuat kita mengerutkan dahi ketika berusaha memahaminya. Tangan dinginnya mampu menghasilkan puisi-puisi manis yang berbuah penghargaan dalam dunia kesusastraan. Bagi seorang pensiunan guru besar UI dan guru besar IKJ ini, menulis dan menghasilkan karya tak pernah berhenti meski usia tak lagi muda. Tahun ini, beliau baru saja menerbitkan karya terbarunya di momen pertambahan usianya yang ke 77 tahun. Tujuh buku baru di launching pada Maret lalu bertepatan di hari ulang tahun Sapardi.

Hujan Bulan Juni, adalah sekumpulan puisi, dan diterbitkan menjadi sebuah novel dengan judul yang sama.  Kali ini, saya membahas secara keseluruhan isi dari novel tersebut. Bagi saya sendiri, sebetulnya baca buku Sapardi atau kumpulan puisinya juga baru. Seperti Budi Darma, tulisan Sapardi pun membuat saya banyak mengerutkan dahi, ketika membaca dan berusaha memahami artinya. Tak banyak yang paham dengan tulisan manis namun dalam khas Sapardi ini. Bahkan ada yang bilang tulisan Sapardi, susah dimengerti dan terkesan njlimet kata-katanya. Tapi bagi saya sendiri, memahami arti tulisan dari seorang penulis legend seperti Sapardi ini, menjadi tantangan sendiri. Bisa dibayangkan, beliau sudah menghasilkan karya di zaman orde lama, dan masih tetap eksis di jaman milenial sekarang ini, sungguh Ajaib!


@nenzquarius


Isi cerita yang umum namun Sentimentil


Sapardi mengangkat kisah cinta seorang dosen dan asisten dosen di sebuah Universitas Negeri Indonesia. Sarwono seorang dosen muda yang mengajar Antropolog, yang gemar menulis puisi di sudut kolom surat kabar ini, jatuh cinta dengan seorang gadis keturunan Jawa - Manado bernama Pingkan. Yang saya ingin ceritakan bukan tentang kisah cintanya, karena sudah terlalu mainstream dituliskan. Namun disini saya ingin bercerita tentang perbedaan suku, adat, agama dan segala permasalahan yang terjadi. Bisa ditebak, jika Sarwono adalah seorang Jawa tulen yang tinggal dan besar di Solo. Sedangkan kekasihnya seorang keturunan Jawa - Menado dan besar di Makassar, Pingkan besar dengan keyakinan ( kristen ) di keluarga besarnya. Begitu pun dengan Sarwono, yang menganut keyakinan ( islam ) yang taat di lingkungan keluarganya di Solo. Dari situlah permasalahan dan konflik terjadi. Dari sini, udah bisa ketebak banget kan, masalah apa saja yang akan terjadi, jika dalam suatu hubungan ada perbedaan. Lika - liku masalah yang terjadi anatara Sarwono dan Pingkan berasal dari keluarga besar Pingkan yang selalu menyudutkan asal suku dan agama Sarwono.

Di Indonesia sendiri dengan beragam suku dan adat istiadatnya, masih saja banyak konflik yang ditimbulkan atas perbedaan tersebut. Identitas suatu daerah masih menjadi hal utama yang sering ditanyakan sebagian orang. Seperti contohnya, " Dari mana asalnya?" pertanyaan itu selalu ditanyakan setiap kita bepergian mengunjungi beberapa daerah di luar pulau Jawa. Kita hidup dan tinggal di Indonesia yang mempunyai beragam perbedaan, tapi seharusnya kita bisa menunjukkan bahwa kita sama, kita satu, tak perlu lagi mempermasalahkan " asal daerah" atau "keturunan apa kita" karena kita sama Indonesia.

Perjuangan Sarwono untuk bisa diterima di keluarga Pingkan pun tak semudah ia menulis puisi di halaman surat kabar. Perbedaan agama dan adat istiadat menjadi bumbu kisah cinta mereka, belum lagi ketika Pingkan harus pergi ke Jepang untuk study nya. Alur cerita yang bisa ketebak endingnya, tapi tetap saja kita dibuat mengerutkan dahi dengan maksudnya tulisan Sapardi ini.


Puisi sebagai media Komunikasi

Dalam novel ini, tak afdol jika tak menemukan beberapa puisi khas Sapardi. Bagi Sarwono puisi adalah medium, sarana komunikasi antara dirinya dengan wanita yang nan jauh disana. Saya pun mengamininya, karena bagi saya sendiri, tulisan itu bernyawa jika mempunyai rasa yang dalam ketika menuliskannya. Dan puisi, adalah media komunikasi seorang penulis kepada jiwanya. ( maaf jika lebay, mungkin ini jiwa saya yang sedang mengetik kata-katanya hehehe :)

Sejak menjadi mahasiswa ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga, Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam.

 Namun, ternyata sampai zaman yang sudah lanjut ini masih saja ada pengaruh keluarga dalam hal perkawinan. Bukan hanya Jawa, bukan juga hanya Manado ternyata keluarga merasa memiliki sejenis hak milik atas anggotanya. Keluarga besar, bahkan.

Sebagian puisi yang bisa dijumpai di dalam novel ini, sungguh dalam maknanya, meski harus dibaca berulang-ulang dan pelan-pelan. Saya penikmat puisi dan suka menulis puisi, jadi saya harus mengakui, saya terhanyut dalam setiap ayunan bait puisi Sapardi di novel ini. Dengan pilihan kata yang masih jadul di era nya, tapi masih bisa merasakan denyut dan jiwa makna katanya di era millenial sekarang ini.

 Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panasItu bukan pepatah, itu klise yang bersikeras untuk menjelma kembali ke habitatnya yang purba sebagai larik puisiJakarta itu kasih sayang

Kalimat sederhana dengan kata-kata yang bermetafora. Karena seni kata yang paling tinggi adalah metafora. dan puisi akan selalu hidup selamanya. Ada yang bilang puisi Hujan bulan Juni adalah penantian, menurut saya novel ini pun juga penantian Sarwono tentang kekasihnya.


Selamat membaca dan menulis puisi :)

terima kasih sudah mampir membaca, tulisan ini untuk #1minggu1cerita



4 komentar:

  1. Saya juga kesulitan memahami puisi.
    Mungkin karena saya penganut aliran otak kiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai, salam kenal. terima kasih udah mampir membaca. iya puisi itu seni nya disitu, semakin susah dipahami semakin aduhai hehehe....

      Hapus
  2. Kemudian selesai halaman terakhir ikutan baper gegara Sarwono... :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaha banget mbk, kita tunggu film nya bagaimana

      Hapus